Pelaksanaan Ijtima Indonesia 2009

Ijtima juli 2009 di laksanakan di tempat yang sama sebagaimana ijtima 2008 yaitu di BSD . ijtima di adakan pada tanggal 17,18,19,20 Juli dan 21,22 juli 2009 diadakan Musyawarah dengan para Masyeikh.
17-20 Juli 2009, Nama lain dari kegiatan tersebut adalah ijtima bsd, ijtima indonesia 2009, ijtima nasional, ijtima serpong, ijtima tabligh, ijtima’, Jaulah, khuruj, maulana Saad, maulana zubair
Keberangkatan aku ke Jakarta mengikuti ijtima, Seharusnya aku bersama rombongan dari Jogja yaitu Bpk. Isnan asal Muja-muju memakai bus pariwisata. Tetapi karena saya datang terlambat kemudian dialihkan pakai kereta api, satu rombongan dengan jamaah yang ada di kulon progo. Dan dari Jogja menyewa 8 gerbong/1 kereta. Setelah sampai kami dijemput para Istiqbal dan kami pun langsung mengikuti program dari panitia.
Aku bersama 3 santri PP. Al-Akhlaqul Al-Karimah Al-Islami (Budi Mulia) Kulon Progo yang saat itu mereka belum faham akan kegiatan dari pada sebuah gerakan da’wah jama’ah tabligh, sehingga aku yang pernah mengikuti kegiatan jama’ah tabligh saat SMK kelas 1 agar menemani santri tersebut yaitu Thoriq, Anam, dan Azhari dengan tiket ke Jakarta yang ditanggung jama’ah tabligh.
Kagum, takjub dan masih banyak lagi perasaan yang berkecamuk di hati setiap orang yang menghadiri ijtima serpong pada tanggal 18 – 20 juli 09. Ratusan ribu manusia berkumpul menjadi satu, datang dari seluruh pelosok daerah bahkan tidak sedikit yang datang dari mancanegara. Tanpa media , tanpa harus memasang spanduk besar di setiap perempatan jalan, tanpa bayaran serta tanpa pengkultusan terhadap individu. Mereka semua datang dengan iklas semata-mata karena Allah , rindu dan haus akan agama. Ratusan kilometer mereka tempuh baik dari darat udara dan laut tanpa rasa lelah, tak terhitung biaya yang mereka keluarkan agar dapat sampai di ijtima.
dsc_0004
Ada perasaan syukur dan sedih setiap kali mengikuti ijtima’ semacam ini. Bersyukur, karena Allah SWT masih memberi kesempatan kepada diri yang lemah ini untuk bisa berkumpul dengan para dai yang sedang belajar Bersyukur juga bisa mendengarkan nasehat-nasehat dari para masyaikh tentang bagaimana seharusnya hidup kita kita arahkan. Bersyukur juga bisa bersuhbah dengan mereka-mereka yang telah menghabiskan diri, harta dan waktu mereka untuk agama.
Tidur hanya beralaskan seadanya, ditempat terbuka bahkan terpaan hujan dimalam hari tak juga menyurutkan langkah mereka untuk tetap berada di medan ijtima selama tiga hari. Makan dengan bersama satu wadah tak mengenal kaya dan miskin, tua dan muda dan dengan cara yang diajarkan Rosulullah. Makan disediakan tiga kali dalam satu hari, yaitu pagi jam tujuh, siang sehabis sholat Dzuhur, malam sehabis sholat Isya’.
Minum telah disediakan lewat bak penampung air yang setiap saat diisi jika akan habis, disetiap sudut diletakkanlah bak air dan hanya memutar keran. Dan dikekat bak air tersebut disediakan pos untuk mengambil makanan hanya dengan membayar dua belas ribu dapat satu nampan makanan yang siap disantap jama’ah berjumlah lima orang diisi dengan ikan laut, daging dan ayam secara bergantian kemudian disiram dengan kuah serta kubis dan diberi garam dipojoknya.
Mandi memakai air dari danau sekitar medan ijtima’ yang disedot memakai mesin diesel kemudian memakai terpal yang membentuk sungai dari atas hingga kebawah air mengalir bak sungai dimusim hujan. Banyak yang mandi dipermukiman warga karena tempat mandi yang disediakan panitia terbuka sehingga dari kalangan santri mandi dengan berjalan kurang lebih satu kilometer. Demikian pula dengan wudhu walau sempat kehabisan air tak menyurutkan semangat jama’ah dalam menghadapi medan ijtima’ yang penuh debu.
Banyak orang yang sakit kemudian dipanggilah bus dari dinas kesehatan setempat memakai dokter yang ahli dibidangnya. Kebanyakan penyakit adalah batuk-batuk, masuk angin karena di alam terbuka, diare. Ada pula yang tidak betah karena belum pernah mengikuti dan kemudian pulang.
Disediakan pula pasar yang oleh panitia sehingga jika ingin membeli perlengkapan ibadah seperti sajadah, baju, sarung, siwak atau membeli oleh-oleh tidak perlu mampir ke pasar setempat dan pedagang di pasar tersebut laki-laki. Sesungguhnya didalam ijtima’ berlangsung tidak boleh mengambil foto maupun video tapi ada saja yang mendokumentasikan hal tersebut entah dengan berbagai dasar.
dsc_0039
Yang jelas ijtima tahun ini dihadiri lebih banyak dari tahun lalu, ada yang memperkirakan jumlah jamaah yang hadir lebih dari ratusan ribu orang bahkan ada yang memperkirakan sampai jutaan orang, jumlah data tersebut tidak tersedia karena tidak didata dari panitia, dan para tamu bebas keluar masuk medan ijtima’.
Kegiatan musyawarah adalah berkumpul membicarakan soal agama dan bagaimana langkah kedepan sesuai dengan kebiasaan jama’ah tersebut. Musyawarah dilakukan setiap habis Sholat Fardhu sehabis bayan karena setiap mendengar bayan dari para ulama dari luar negeri banyak yang mendapatkan hidayah dan ingin bertujuan ikut jama’ah keluar untuk berdakwah sesuai dengan tata cara jama’ah tabligh.
Yang membuatku heran kenapa setiap saat banyak orang yang ingin keluar berdakwah dan mendaftarkan diri dipanitia yang waktu tersebut boleh dibilang lama yaitu boleh dikelompokan empat bulan negeri jauh (Amerika, Inggris, Palestine, Kanada dll), empat bulan (India, Pakistan, Bangladesh) empat bulan Negeri seberang (Malaysia) dan didalam negeri meliputi empat bulan penjuru negeri (Kota, Provinsi) empat bulan jalan kaki, empat puluh hari, empat puluh hari jalan kaki, dan yang paling sedikit yaitu tiga hari tersebut banyak yang mau mrngikuti!. Padahal kita semua memerlukan sesuatu untuk kepentingan hidup yang lebih baik dan kita niatkan sebagai ibadah seperti mencari nafkah untuk keluarga, mencari ilmu di sekolah formal maupun non formal dll.
Ijtima Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 18 – 20 Juli 2009 ini juga ditutup dengan bayan hidayah dari Maulana Muhammad Saad Kandahlawy dan kemudian dilanjutkan dengan doa penutup, akhire munajat, dari Maulana Zubairul Hasan.
Bayan diisi setiap habis sholat fardhu kecuali sehabis sholat Isya’ karena sehabis sholat Magrib bayan diisi sekitar tiga jam, jadi sholat Isya diundur. Bayan hidayah, adalah sebuah nasehat/bayan yang terutama ditujukan kepada para dai yang hendak diberangkatkan ke seluruh penjuru. Materinya berkisar pada apa yang harus dipersiapkan sebelum berangkat, dalam perjalanan, ketika sampai ke tempat tujuan, bagaimana detil kerja selama berada di tempat itu dan lain sebagainya. Bahwa tujuan dari semua pergerakan ini adalah untuk memperbaiki diri masing-masing ahli jamaah serta untuk mengajak orang lain untuk sama-sama memperbaiki dirinya.
Maulana Saad menyampaikan ini begitu detil dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna. Maulana Zubairul Hasan kemudian juga menekankan kembali beberapa hal penting yang harus dilakukan para dai selama mereka keluar di jalan Allah SWT.
Setelah itu, dengan khusyu’ beliau membacakan sebuah doa mohon hidayah yang cukup panjang. Hadirin mengamininya dengan penuh tawadlu. Jutaan air mata dan doa tertumpah dalam ijtima, memikirkan keadaan umat yang telah jauh dari agama ,berharap agar setiap diri mau kembali kepada agama , mau kembali mengambil tanggung jawab atas kerja dakwah sebagaimana dahulu Rasulullah saw dan sahabatnya lakukan. Tangisan para peserta tumpah ketika doa ini dipanjatkan. Bersamaan dengan doa itu, matahari yang sebelumnya bersinar cukup panas, tiba-tiba meredup dan menimbulkan suasana teduh.
Sehabis itu para dai melakukan musafahah, lalu masing-masing rombongan menyiapkan diri untuk berangkat sesuai dengan rute dan nama-nama peserta yang telah ditetapkan.
Para peserta juga datang juga merata dari seluruh wilayah Indonesia. Ribuan tamu dari luar negeri juga hadir menyukseskan ijtima Indonesia 2009 ini. Jumlah mereka yang keluar juga lebih banyak dari tahun lalu. Keluar 1 tahun bagi para ustadz dan 4 bulan bagi orang biasa sekarang sudah menjadi barang yang biasa.
Masyaikh-masyaikh juga hadir untuk menyukseskan ijtima ini diantaranya adalah Haji Abdul Wahab atau yang lebih populer dengan panggilan Bhai Wahab dari Pakistan, Maulana Ahmad Lat, Prof. Abdurrahman, Maulana Saad dan Maulana Zubair dari India dan lain-lainnya.
Tak banyak yang bisa saya catat dari ijtima ini, malu rasanya mau berpanjang-panjang kata, sementara diri ini belum bisa melakukan apa-apa. Rasanya jutaan tulisan tak akan bisa menjelaskan tentang usaha ini tanpa kita sendiri ikut terjun langsung di dalamnya dan menjadikan dakwah sebagai maksud hidup kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s